Perkenalan
Berikut ini adalah sharing pengalaman perjalanan kami yang ingin kami share sekiranya dapat berguna bagi teman-teman yang ingin melakukan perjalanan darat lintas batas negara menggunakan kendaraan pribadi.
Uraian berikut hanya berupa copy paste dari jurnal perjalanan tersebut sehingga tidak begitu detail dengan uraian. Perjalanan tersebut kami lakukan pada 18 - 30 Desember 2014, menggunakan Nissan Xtrail keluaran tahun 2006. Kru kami terdiri dari 3 orang, yaitu saya (Yasser, 43 tahun), sahabat saya Krisna (fotografer mantan jurnalis, 43 tahun) dan anak saya (Alix, 13 tahun)
Yasser (kanan), Krisna (Kiri) , Alix (tengah)
Jurnal
Bagian 1,Jakarta-Semarang,18-19 Desember 2014
- 16.10 start dari Meruya. Macet berat. 18.45 baru sampai di Rest Area Km 19. Shalat. Minum teh. Alix makan nasi rawon. Belanja air minum & rokok.
- 19.35 start lagi. Tadi start dari Meruya kilometer menunjukkan angka 110.232. Sekarang jam menunjukkan waktu 21.46 tapi jarak yang ditempuh baru 175 kiloan. Macet lagi gara2 perbaikan jalan di Pamanukan.
- 00.00 keluar tol Pejagan. Mampir makan sate kambing muda di Warung Bang Kumis.
- 01.00 berangkat lagi, baru jalan +/- 1 km macet total. Menurut info dari pengendara arah lawan, kemacetan sangat panjang & disarankan untuk putbal lalu mengambil jalur alternatif ke Semarang melalui Slawi. Hujan deras & banyak melalui genangan air yang lumayan tinggi. Sepanjang jalan masih terdapat titik-titik kemacetan karena perbaikan jalan yang mengharuskan penggunaan sistem memakai jalur secara bergantian.
- 04.00 tiba di masjid Al Fairus Pekalongan untuk shalat Subuh. Rencananya menunggu tukang jajanan yang biasanya banyak mangkal disini menjelang fajar, namun hari ini tidak nampak, mungkin karena turun hujan.
- 04.30 berangkat lagi.
- 07.00 sampai di pelabuhan Tanjung Mas, menunggu Pak Rusyidi agen muatan kapal membawakan tiket KM Egon, kapal ro-ro PT Pelni, untuk menyeberangkan ke Kumai, Kalimantan Tengah.

 |
| KM Egon |
Bagian 2, 19 - 20 Desember 2014. Semarang - Kumai
 |
| Kelas 3 |
- 10.30 mobil naik ke kapal.
- 11.10 KM Egon bertolak dari pelabuhan Tanjung Mas, Semarang menuju Kumai, Kalteng. Kapal ini dikenal sebagai kapal terbaik yang melayani jalur Semarang - Kumai karena lebih besar, cepat dan tahan gelombang laut dibanding kapal lainnya.
- Hanya ada 2 kelas penumpang pada kapal ini yaitu kelas 3 & 2. Kelas 3 bertarif Rp. 370.000 per orang dengan fasilitas tempat tidur "tatami" (istilahnya meniru gaya Jepang, namun yang dimaksud sebenarnya tidur di karpet) dan dapat makan 3 x sehari. Untuk kelas 2 dapat kasur sehingga lebih nyaman. Daya tampung kendaraan pada kapal ini sampai 40an. Tarif kendaraan di atas 2,000 cc termasuk satu orang penumpang sebesar Rp. 4,300,000.
 |
| Pelabuhan Di Kumai |
- 06.00 pagi kapal sudah mencapai teluk Kumai dan sejam kemudian mulai masuk ke muara sungai Kumai.
- 09.30 kapal merapat. Penumpang tanpa kendaraan turun terlebih dahulu disusul dengan penumpang berkendaraan roda dua kemudian roda empat.
- 10.00 akhirnya keluar dari kapal.
Bagian 3,Kumai-Entikong, 20 Desember 2014
 |
| Jalan Kumai-Traju |
 |
| Jalan Kumai-Traju |
- 10.15 berangkat.
- 13.30 mampir makan & belanja logistik di Kudangan, +/- 190 km dari Kumai. Sehabis makan, diantar seorang penduduk setempat untuk mandi di sungai.Setelah shalat, pukul 14.30 perjalanan dilanjutkan.
 |
| Sungai yang bersih tempat kami mandi |
- 20.30 tiba di Traju. Antri untuk naik ke KMP Seluang untuk menyeberangi Sungai Kapuas ke Tayan. Ongkos untuk mobil sebesar Rp. 70,000. Lama penyeberangan hanya 20 menit namun lama menunggu sampai kapal penuh baru berangkat.
- Di kapal dapat info dari penumpang lain bahwa Tayan adalah jalur yang dilewati kendaraan dari Pontianak untuk mencapai Entikong, perbatasan RI - Malaysia. Itinerary langsung berubah. Tidak jadi ke Pontianak tetapi langsung ke Entikong. Hanya saja ada info yang kurang enak mengenai rawannya keamanan pada jalur Tayan ke Entikong.
 |
| Kapal Ferry Traju-Tayan |
- 21.15 tiba di Tayan. Isi bensin eceran karena SPBU sudah tidak ada yang buka. Setelah mampir untuk shalat, kami ngopi di warung sambil mencari tambahan informasi mengenai kondisi jalan ke Entikong. Ternyata ruas Tayan sampai ke Simpang Sosok (ke arah Entikong) rusak parah sepanjang +/- 30 km. Namun masalah keamanan menurut info dari pemilik warung sudah tidak lagi seperti yang digambarkan oleh penumpang kapal yang ngobrol dengan kami.
 |
| Jalan Menuju Entikong |
- 21.50 berangkat menuju Entikong. Jalan rusak berat seperti info yang kami dapat.
- 01.00 tiba di Entikong. Makan malam di warung terdekat dengan gerbang perbatasan yang masih buka. Setelah itu tidur di mobil sambil menunggu subuh & gerbang imigrasi dibuka pada pukul 05.00 pagi.
Bagian 3, Entikong-Miri, 21 Desember 2014
 |
| Imigrasi Entikong-Tebedu |
- 05.30 start masuk ke imigrasi. Tanpa kesulitan apapun kami diperbolehkan masuk ke wilayah Kerajaan Malaysia. Isi bbm di dekat perbatasan, langsung menuju arah Bandar Seri Begawan.
- 09.00 waktu Malaysia (WITA) mampir di rest area Sungai Tenggang +/- 110 km dari perbatasan. Makan Mie Itik & kopi O bertga hanya bayar RM 17,70 rasanya sangat berbeda dibandingkan sewaktu perjalanan kami di Kalimantan wilayah RII. Selain disini jauh lebih murah, rasanyapun jauh dari sekedar memasak asal-asalan untuk dijual. Mungkin juga kami yang kurang selektif pada saat memilih warung makan selama di Kalteng dan Kalbar.
 |
| Warung Makan Mie Itik di Sungai Tenggang |
- 10.00 kami meneruskan perjalanan.
- 11.30 mampir di rest area Betong untuk mandi, ngopi dan shalat.
- 12.45 lanjut perjalanan.
- 15.05 mampir di daerah Sibu untuk makan siang. Nasi lemak dan Iced Chinese Tea. Total bertiga RM 19,8.
- 15.45 perjalanan dilanjutkan.
- 17.55 sampai di Tatau. Mampir ngopi & shalat.
- 18.50 berangkat lagi.
- 20.50 mampir di pasar Similajau untuk makan. Menunya pangang-panggangan ayam, ampela, brutu ayam dimakan dengan pulut (ketan) yang dibungkus dengan daun pisang dan dibakar. Total RM 28.
 |
| Warung Makan similajau (sumber:google) |
- 21.10 perjalanan dilanjutkan.
- 23.40 sampai di Miri, mampir isi bensin kemudian menuju Sungai Tujuh Checkpoint untuk masuk wilayah Kerajaan Brunei Darussalam. Sampai di gerbang tol Sungai Tujuh sekitar pukul 24.10, ternyata kami diberitahukan bahwa imigrasi sudah tutup dan baru buka pukul 05.30 keesokan harinya. Kami putuskan untuk mencari hotel untuk bermalam. Setrlah berputar-putar akhirnya diputuskan untuk memilih hotel MI Boutique Inn yang tidak terlalu jauh dari jalur ke perbatasan. Tarif untuk kamar yang tersedia dan cocok buat kami bertiga adalah yang seharga RM 129 dengan fasilitas 1 queen bed + 1 single bed.
Bagian 4, Miri, 22 Desember 2014
- 10.10 check out lalu sarapan di RM Cahaya Taufik yang milik orang Indonesia. Total makan bertiga habis RM 29.
- 11.10 berangkat menuju perbatasan.
 |
| Jembatan Perbatasan Malaysia |
 |
| Sungai Tujuh Checkpoint (Imigrasi Malaysia) |
- 11.25 kami sampai di Sungai Tujuh Checkpoint Imigresen Malaysia. Pada saat menyerahkan paspor untuk dicap exit dari Malaysia baru ketahuan bahwa paspor kami belum dicap oleh pihak imigrasi Malaysia di Entikong. Berarti kami adalah imigran ilegal sejak masuk wilayah Malaysia kemarin. Untuk itu kami diminta mengurus ke kantor imigrasi di Yulan Plaza di kota Miri.
- 12.10 kami tiba di Yulan Plaza dan segera menemui petugas Unit Paspor dan menjelaskan permasalahan kami. Ternyata mereka tidak berwenang untuk mengendorse langsung entrance permit kami melainkan harus diberitaacarakan dahulu pada unit Penguat Kuasa Imigresen di gedung Wisma Persekutuan.
- 12.30 berangkat ke Wisma Persekutuan. Tiba disini ternyata ada tempelan kertas di bagian Penguat Kuasa yang memberitahukan bahwa pejabat yang berwenang sedang tugas keluar kantor dari pagi dan baru akan mulai bertugas kembali pada pukul 14.00. Jadi kami ke Masjid At Taqwa yang berada di sebelah Wisma Persekutuan untuk shalat sekaligus melihat-lihat masjid kuno tersebut.

- 14.00 kami kembali ke kantor unit Penguat Kuasa dan bertemu petugas.setelah menunggu sekitar 20 menit, kami diminta menunjukkan bukti dalam bentuk apapun yang menunjukkan bahwa kami masuk ke Malaysia dengan menggunakan kendaraan sendiri, baik itu berbentuk struk pembayaran tol maupun struk pembelian bensin dalam perjalanan kami sejak masuk wilayah Malaysia kemarin. Kamipun mencari di mobil dan akhirnya dapat beberapa bukti pembayaran tol di Sibu dan pembelian BBM di SPBU Petronas. Bukti-bukti tersebut dianggap cukup, namun kami harus menunggu pejabat yang akan membuat berita acara terhadap kami yang masih berada di luar kantor. Seelah menunggu, akhirnya pejabat tersebut datang. Yang pertama dipanggil adalah Alix, namun setelah melihat bahwa dia ternyata masih anak-anak maka dipanggillah saya sebagai orang tuanya bersama-sama dalam wawancara berita acara.
- Pejabat ini, yang belakangan saya ketahui bernama Pak Syahri, mengajukan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan daftar yang dimilikinya sambil menulis pertanyaan tersebut dan jawaban saya ke selembar kertas yang kemudian saya tandatangani. Pertanyaan cukup banyak dan memakan waktu sampai 20 menitan. Setelah selesai, kami diminta kembali ke Yulan Plaza untuk mengambil paspor kami yang dibawa oleh staf kantor sini untuk dicap.
- Sesampai di Yulan Plaza kami diminta untuk mengisi formulir lagi dan akhirnya paspor kami selesai dicap.
- 16.30 berangkat menuju Sungai Tujuh kembali. Setibanya di Sungai Tujuh kami bertemu petugas imigrasi yang siangnya menemukan bahwa paspor kami belum dicap oleh petugas imigrasi Malaysia di Entikong. Kali ini dia mengajak ngobrol dengan bersahabat dan mempersilakan kami melanjutkan ke imigrasi Brunei Darussalam.
 |
| Imigrasi Brunei Darussalam |
Bagian 5,Miri-Bandar Seri Begawan
- Setelah mengantre cukup panjang akhirnya kami sampai di loket pemeriksaan paspor pada pukul 17.30. Setelah lolos imigrasi kami ke pemeriksaan bea & cukai (customs). Kali ini ternyata kami belum mengurus kartu pas kendaraan untuk melintas batas dan harus segera kami urus saat itu juga. Petugas yang mengurus kartu pas kendaraan pelintas batas sangat kooperatif dan kami segera dapat melanjutkan perjalanan pada pukul 18.10.
- 18.30 mampir shalat di gerbang tol Lebuh Raya Muara - Tutong.
- 19.00 kami lanjutkan perjalanan ke Bandar Seri Begawan.
- Kami baru menyadari bahwa ada kesalahan lagi yaitu belum menukar uang kami ke BND. Pada saat bayar tol baru kelabakan. Untung petugas tol yang baik hati membolehkan kami membayar dengan RM.
- Dalam perjalanan ke BSB kami mencari info dimana ada money changer agar kami dapat membeli Brunei Dollar. Ternyata money changer disini rata-rata sudah tutup pada pukul 18. Jadi kami putuskan bermalam di hotel berbintang yang menerima kartu kredit dan dapat menukarkan US Dollar kami ke Brunei Dollar.

- 20.30 tiba di BSB. Radisson Hotel adalah hotel pertama yang kami lalui dan kami putuskan check in disini. Tarif semalam untuk kami bertiga (kamar deluxe twin bed + 1 extra bed) adalah USD 137,5. USD 100 kami tukar dengan rate hotel (yang lebih jelek daripada money changer tentunya) dan kami menerima BND 120. Lumayanlah untuk beli makan malam.
 |
| Radisson Hotel BSB |
- Setelah mandi, kami keluar untuk mencari makan malam dengan berjalan kaki. Di BSB ini banyak terdapat foodstall yang buka sampai jauh malam, sampai jam 2-3 dinihari. Kami memilih foodstall yang jaraknya hanya 5 menit jalan kaki dari hotel. 3 porsi nasi dan ayam bakar + 1 teko ice lemon tea kami bayar BND 14.
 |
| Masjid Di Bandar Seri Begawan |


Bagian 6, Bandar Seri Begawan-Tawau,Malaysia, 23 Desember 2014
- Perjalanan Kami tidak berakhir sampai BSB saja.Kami mendengar kabar bahwa sudah ada jalan menuju indonesia melalui perbatasan Tawau,Malaysia dengan Pulau Nunukan Indonesia.Agar bisa mengelilingi full pulau kalimantan, jadi kami memutuskan untuk menuju tawau.
- 16.15 berangkat dari hotel dengan tujuan ke Tawau. Setelah isi bensin di Bunut, kami mencari tempat makan dahulu. Kami menemukan warung Nasi Katok milik orang Indonesia. Total bertiga BND 17,60. Walaupun mata uang Brunei adalah Brunei Dollar, warga setempat tetap menyebutnya dengan Ringgit.
- 17.00 kami lanjutkan perjalanan.
- 17.30 tiba di Kuala Lurah yang merupakan perbatasan antara Kerajaan Brunei dengan Malaysia. Antri panjang namun tertib. 18.00 kami masuk wilayah Malaysia lagi.
- 19.00 kami sampai di Limbang yang merupakan perbatasan antara Malaysia dengan Brunei lagi. Kembali kami masuk wilayah Brunei.
- 19.50 setelah mampir shalat & ke toilet, perjalanan kami lanjutkan menuju ke perbatasan Brunei - Malaysia berikutnya.
- 20.10 kami tiba di perbatasan dan masuk wilayah Malaysia kembali.
- 21.00 kami memasuki kota Lawas untuk membeli SIM Card telepon lokal sekaligus makan malam. Makan malam kali ini, Alix memilih menu Nasi Kari Ayam dan Ice Lemon Tea, Krisna memilih Laksa Malaysia dan Teh C sedangkan saya sendiri hanya minum Kopi O .
- 22.15 perjalanan kami lanjutkan menuju Tawau melalui Keningau
- 23.00 kami tiba di batas negara bagian Sabah (sebelumnya di Serawak). Kami heran karena dihadang pagar besi setinggi kurang lebih 2 meter berwarna hijau. Sebuah mobil Malaysia di depan kami pengemudinya turun dan membuka pagar tersebut kemudian masuk ke dalamnya. Kamipun mengikutinya. Di dalam terlihat pos-pos layaknya pos imigrasi yang kami temui beberapa hari ini. Kemudian ada tulisan Pos Imigresen. Setelah mencari tahu dari petugas keamanan yang bertugas kami baru tahu bahwa jika warga negara asing yang melintas batas negara bagian ternyata harus dicap juga paspornya. Petugas keamanan tersebut sambil meminta maaf dan mengatakan tidak bermaksud untuk mempersulit kami, meminta kami untuk memutar kendaraan karena pos imigrasi tersebut sudah tutup. Kamipun memutar kendaraan kembali menuju ke Lawas untuk bermalam karena pos imigrasi baru buka kembali pukul 06.00 esok pagi. Selain itu pertimbangan kami adalah kami tidak ingin pengalaman kami yang lolos cap dari imigrasi Entikong/Tebedu terulang kembali.
 |
Imigrasi Sarawak-Sabah (sumber:Google)
|
- 23.30 kami check in di Hotel Seri Malaysia, Lawas.
Bagian 7, Lawas-Entikong,24-25 Desember 2014
- Pada saat sarapan pagi kami merundingkan rencana perjalanan berikutnya. Setelah kami pertimbangkan banyak hal akhirnya kami putuskan untuk kembali ke Indonesia via jalur kedatangan kami. Namun sebelumnya kami ingin masuk negara bagian Sabah dahulu untuk melihat-lihat sekaligus menambah koleksi cap di paspor kami terlebih dahulu.
- 10.00 kami check out dan segera berangkat ke arah perbatasan Serawak - Sabah.
- 10.30 paspor dicap imigrasi Sabah.
- 11.00 mampir di pantai kota Sipitang.
 |
| Pantai Sipitang |
- 12.00 berangkat kembali arah balik ke perbatasan Sabah - Serawak.
- Setelah melalui rute yang kami tempuh pada saat berangkat dari Entikong sampai ke perbatasan Sabah (kecuali beberapa km setelah Kuala Lurah, kami melalui jalur alternatif mengikuti GPS sehingga tidak melalui kota Bandar Seri Begawan dan dari Miri ke Bintulu), kami akhirnya tiba di Entikong perbatasan antara RI dengan Malaysia pada pukul 12.30 WIB tanggal 25 Desember 2014. Perjalanan sejauh 4000 km tersebut penuh perjuangan karena kondisi mobil kami kemudikan dalam keadaan indicator engine check menyala sejak 63 km sebelum kota Bintulu, atau sekitar 600 km dari Entikong. Selain itu mobil sempat mengalami masalah dengan throttle body sampai sekitar 2 jam kami harus berhenti untuk mengutak atik agar pedal gas dapat berjalan normal kembali. Reparasi sementara tersebut menyebabkan sisa perjalanan kami harus kami tempuh lebih lama karena harus mempertahankan posisi pedal gas tidak diinjak terlalu dalam, sehalus mungkin dan menjaga kecepatan tetap konstan.
- Selain itu ada insiden lain yaitu saat kami akan menunaikan shalat Subuh di salah satu pompa bensin Shell di Sibu kami didatangi 2 orang oknum polisi Diraja Malaysia yang intinya mau meminta uang dengan mencoba mencari-cari kesalahan sambil menggeledah mobil kami. Namun karena tidak mendapatkan apapun mereka akhirnya pergi dengan tampang kesal.
Bagian 8, Entikong-Pangkalan Bun,25-26 Desember 2014
- Setelah makan siang dan shalat, pukul 14.00 perjalanan di Kalimantan wilayah RI dimulai lagi.
- Pukul 03.00 sekitar 200 km sebelum Pangkalan Bun mobil kami bermasalah lagi. Kami putuskan untuk beristirahat sambil menunggu pagi. Setelah reparasi seadanya mobil dapat berjalan normal kembalid dan pada pukul 06.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Pangkalan Bun.
- 08.00 mampir sarapan di Lamandau. Soto Lamongan sangat cocok untuk sarapan kami pagi ini.
- 09.00 setelah makan sepertinya kami makan terlalu banyak sehingga kami harus buang air besar di salah satu pom bensin, kami kaget saat melihat pom bensin tersebut.Pom bensin itu sangat penuh dengan antrian mobil yang sangat banyak.
- 10.00 kami tiba di Kumai untuk mencari tiket kapal ke Semarang.
- 11.00 kami tiba di Swissbel Inn Pangkalan Bun untuk check in. Hari ini kami isi dengan shalat Jumat, istirahat, berenang dan mencari oleh-oleh.
Kereeen....
ReplyDeleteLuar biasa, apa dokumen yang harus diurus untuk membawa mobil sampai ke brunei?
ReplyDelete